KONSEP EKONOMI SPIRITUAL DALAM PERSPEKTIF PEREKONOMIAN BALI

Oleh: I Made Sukarsa,

Pendahuluan

Pemahaman Agama dan Aktivitas Ekonomi

Pemahaman agama Hindu dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu pemahaman tentang tatwa atau filsafat agama, susila atau etika, dan upakara atau upacara. Sedangkan Kegiatan atau aktivitas ekonomi, menurut teori terdiri dari tiga aktivitas yaitu aktivitas-aktivitas menciptakan/memproduksi, mendistribusikan dan menghabiskan atau mengkonsumsi.

Seperti terlihat pada Diagram 1, antara pemahaman agama melalui pelaksanaan upakara merupakan kegiatan konsumsi dipihak lain pada ranah aktivitas ekonomi. Jika didekati memakai diagram venn seperti diatas ternyata kedua kegiatan tersebut terjadi overlapping. Itu artinya pemahaman agama melalui pelaksanaan upacara merupakan pengeluaran konsumsi ritual jika dilihat dari ranah ekonomi. Apakah ini juga bisa diartikan bahwa melakukan upakara merupakan aktivitas ekonomi?

Dari sisi lain upakara merupakan yadnya atau persembahan manusia terhadap lima unsur kehidupan yaitu terhadap Tuhan, orang suci (rsi), manusia, alam bawah, dan binatang. Ke lima yadnya tersebut dikenal dengan sebutan ’panca yadnya’ atau lima jenis persembahan, yaitu dewa yadnya, rsi yadnya, manusa yadnya, pitra yadnya, pitra yadnya dan butha yadnya. Frekuensi acara ritual untuk dewa yadnya, yaitu persembahan bagi Tuhan yang Mahaesa dan semua manifestasinya dalam satu tahun Isaca (420 hari) terdiri dari 108 hari. Kegiatan ini merupakan hari raya yang rutin dilaksanakan seperti purnama (bulan penuh), tilem (bulan mati), coma ribek (senin kliwon), tumpek (sabtu kliwon), hari raya Saraswati, hari raya Galungan, Kuningan dan lain-lain.

Kegiatan ritual diluar rutin masih ada lagi seperti pembangunan pura, peresmian pura, dan hari raya pemujaan (sanggah) atau odalan. Kegiatan ritual manusa yadnya terdiri dari 11 kegiatan mulai dari anak baru lahir, putus tali pusar sampai dengan perkawinan dan terakhir pembersihan jiwa-raga (pewintenan). Jika semua panca yadnya dilakukan dengan semestinya maka hampir sepertiga dari waktu yang dimiliki keluarga Hindu di Bali dipergunakan untuk aktivitas ritual (Sukarsa,2005c).

Data Empiris

Beberapa tahun belakangan ini telah dilakukan penelitian-penelitian tentang pelaksanaan upakara di Bali diantaranya tentang upacara ngaben dilihat dari alokasi waktu bagi pekerja wanita dan pria, jumlah kebutuhan beberapa barang tertentu untuk keperluan dewa yadnya, jumlah pengeluaran untuk upacara per-keluarga dan per-kapita per tahun dan penelitian tentang bagaimana pengaruh pendapatan dan pemahaman agama terhadap pengeluaran upakara. Berikut akan diuraikan beberapa simpulan dari hasil penelitian tersebut.

Upacara ngaben di Bali merupakan suatu kegiatan agama yang pasti akan dilakukan oleh keluarga bagi yang sudah meninggal. Terdapat beberapa tingkatan besarnya upakara tergantung dari jenis dan ragam kelengkapan upakara, yaitu tingkat besar (utama), sedang (madya) dan tingkat kecil (kanista). Walaupun pelaksanaan upacara dengan tingkatan berbeda namun tujuan yang dicapai sama yaitu ingin menyatu dengan Yang Maha Kuasa dan untuk kesejahteraan dunia. (Sukarsa, 2005b). Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk ngaben dan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan disajikan pada Tabel 2.1.

Tabel 1. Alokasi Waktu dan Tenaga Kerja
pada Upacara Ngaben (Orang dan Mandays)
HARI Tenaga kerja Waktu
Laki Pr Lk+Pr Mandays %
H-6 42 18 60 7.50 1
H-5 58 50 108 14 2
H-4 513 549 1062 133 19
H-3 555 331 886 111 16
H-2 51 92 143 18 3
H-1 590 524 1114 139 20
H 1283 935 2218 277 40
Total 3092 2499 5591 699 100

Sumber: Sukarsa (2005c).

Jika distribusi waktu dan tenaga kerja ini digambarkan dalam bentuk diagram batang akan diperoleh gambaran seperti pada Gambar 2.

Penelitian lain ditemukan bahwa rumah tangga di Bali rata-rata mengeluarkan 10,53% dari pendapatannya untuk upacara rutin (yang jumlah nya 108 kali setahun). Menurut Pedande Made Gunung (2006) jumlah ini masih dibawah yang dianjurkan yaitu sepertiga atau 33,3% dari pendapatan. Luas pekarangan rata-rata 309,11 m2 termasuk didalamnya luas merajan rata-rata 36,65 m2 melakukan upacara mebanten saiban dan pekajengkliwonan/purnama sebanyak 34 tandingan. Jika tandingan banten untuk canang sari rata-rata memerlukan bunga 8,5 gram dan busung 15 gram, maka untuk daerah Bali dengan jumlah rumah tangga yang beragama Hindu sebanyak 656.734, maka akan diperlukan 20.498,0 ton setahun dan busung (janur) sebanyak 36.173,91 ton setahun.

Jika angka-angka ini dilanjutkan untuk barang-barang lain yang jenisnya cukup banyak maka akan diperoleh kebutuhan beraneka ragam jumlah. Seperti misalnya untuk membuat daksina alit memerlukan 13 jenis barang mulai dari kelapa, telor sampai dengan tebu dan daun. Demikian pula untuk pejati alit memerlukan 28 jenis barang (Sukarsa, 2005b). Angka-angka ini akan membuat kegiatan ekonomi domestik menjadi lebih hidup.

Gambar 2 Grafik Alokasi Waktu Pengabenan
Berdasarkan Jender (orang).

Dalam upaya manusia untuk mencapai tujuan hidup yaitu kesejahteran lahir bathin (suka tan pawali dukha), masyarakat (Hindu di Bali) melakukan dengan menjaga hubungan baik dengan alam dan lingkungannya. Demikian pula mereka menjaga hubungan baik dengan Tuhan yang menciptakan dunia dengan segala isinya dan juga dengan sesama manusia. Tiga hubungan baik ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana. Penelitian tentang Tri Hita Karana dilihat dari sisi ekonomi, telah dilakukan dengan memperoleh hasil seperti pada Gambar 3.

Peneliti melihat untuk menjaga ketiga hubungan baik manusia dengan satu sama lain memerlukan suatu aktivitas yang berkonsekuensi pada pengeluaran yang berbentuk upakara. Jika upakara-upakara ini dinilai dengan uang maka hasilnya seperti pada gambar tersebut. Pengeluaran yang paling besar akan terletak pada menjaga hubungan baik antara manusia dengan manusia sebanyak Rp.4,7 juta setahun. Hubungan baik ini banyak dibentuk dengan gotong royong sesama kerabat atau tetangga dan saudara. Jika semua waktu di nilai dengan uang maka akan menghasilkan pengeluaran seperti itu.

Sumber: Sukarsa (2005c:30)

Gambar 3. Jumlah Pengeluaran Untuk Pelaksanaan
Trihitakarana di Kabupaten Gianyar

Komponen kedua pada aktivitas untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan manusia adalah upakara manusa yadnya seperti otonan, mebersih (melukat) dll sebanyak Rp. 1,96 juta. Demikian juga kalau dilihat kegiatan upakara yang dilakukan untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan Tuhan akan mengeluarkan untuk dewa yadnya sebanyak Rp. 3,6 juta. Dan untuk menjaga hubungan baik dengan lingkungan seperti kegiatan mecaru dll., perlu dana yang dikeluarkan sebanyak Rp. 164.615,38 setahun.

Jika ketiga jenis pengeluaran ini dibandingkan satu sama lain maka akan terlihat seperti pada Gambar 4. Proporsi terkecil yang dikeluarkan diantara ketiga pengeluaran tersebut adalah untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan lingkungan seperti mecaru dll yaitu sebanyak 2% dari seluruh pengeluaran. Sedangkan pengeluaran terbesar terdapat pada pengeluaran untuk menjaga hubungan baik anatara manusia dengan manusia yaitu sebanyak 56%, disusul dengan pengeluaran kedua yaitu manusia dengan Tuhan (dewa yadnya) sebanyak 42%.

Gambar 4. Proporsi Pengeluaran untuk Ketiga Kegiatan dalam Trihitakarana

Penelitian lain yang pernah dilakukan pada tahun 2005 adalah mencari jawaban tentang bagaimana pengaruh pendapatan dan pemahaman agama terhadap pengeluaran ritual masyarakat Bali? Hasil yang dicapai seperti yang digambarkan pada Tabel 2 tentang variabel-variabel yang berpengaruh secara signifkan terhadap pengeluaran ritual.

Variabel pertama yang mempengaruhi pengeluaran ritual secara signifikan adalah pendapatan. Pendapatan keluarga dalam hal ini yang lebih berpengaruh adalah pendapatan sementara (transitory) dibandingkan dengan pengeluaran permanen (tetap). Hasil ini berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Milton Friedman yang mengatakan bahwa variabel yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi adalah pendapatan permanen (permanent income hyphotesis). Variabel kedua yang mempengaruhi penge-luaran ritual adalah filsafat.

Ini artinya bahwa banyak sedikitnya filsafat agama yang di kuasai oleh kepala keluarga akan mempengaruhi banyak sedikitnya pengeluaran ritual. Filsafat juga sangat signifikan mempengaruhi susila seseorang. Hubungan-hubungan lain antara beberapa variabel yang mempengaruhi pengeluaran ritual dan pemahaman agama ditunjukkan oleh tabel tersebut.

Tabel 2
ESTIMASI PARAMETER MODEL STRUKTURAL
PENGELUARAN RITUAL

Regression Weight Estimate S.E. Critical Ratio Keterangan
Filsafat (tattwa)  Pendapatan 0,373 0,086 3,368 Signifikan***)
Susila  Pendapatan 0,224 0,064 1,352 Non Signifikan
Susila  Filsafat (tattwa) 0,230 0,056 2,064 Signifikan**)
Upacara  Pendapatan 0,102 0,086 0,831 Non signfikan
Upacara  Filsafat (tattwa) -0,063 0,065 -0,873 Non significant
Upacara  Susila 0,104 1,161 1,162 Non significant
P.Ritual  Susila -0,263 0,938 -1,547 Non Signifikan
P.Ritual  Filsafat/Tattwa -0,226 0,357 -1,749 Signifikan*)
P.Ritual  Upacara -0,012 0,310 -0,123 Non Signifikan
P.Ritual  Pendapatan 1,100 0,246 9,562 Siginifikan***)
*) = level of significancy (l.o.s 10%; **) = l.o.s. 5%; ***) = l.o.s. 1%
Sumber: Sukarsa (2005a.:124)

Pengujian dugaan-dugaan pada penelitian diatas dicoba didekati dengan metode kuantitatif. Dengan menyadari segala kekurangan dari yang dimiliki pendekatan ini peneliti kelihatannya ingin menginvestigasi lebih rigid tentang hubungan-hubungan tersebut.

Ekonomi Spiritual Sebagai Satu Alternatif

Saat ini ekonomi kita di satu sisi sedang menuju recovery dari keterpurukan akibat beberapa kejadian nasional maupun internasional. Di sisi yang lain beberapa anjuran yang diterima untuk mempersiapkan bangsa ini dari arus globalisasi. Ikut bersaing dengan skala internasional. Di tengah persaingan global ini pergulatan penerapan teori ekonomi sebagai satu pemecahan masih sangat seru. Tarik menarik antar satu aliran dengan aliran lain.

Sejak abad pertengahan ketika prinsip-prinsip etika yang mewarnai ilmu ekonomi mulai ditinggalkan, nilai ekonomi yang sekuler mendapat tempat dihati masyarakat dan sangat popular (Spiegel, 2000). Seperti siang berganti malam, The Moral Sentiment-nya Adam Smith yang terbit 1759, memberikan semangat spiritual yang tinggi pada ilmu ekonomi. Pesan tersebut seperti: selflove, moralitas, justice, equality, equity, humanity, religious values, social welfare, public needs, public interests, solidarity dll. Pengertian-pengertian ini bisa sebagai modal untuk memberi semangat spiritual di dalam ilmu ekonomi.

Sembilan belas tahun kemudian (waktu yang begitu pendek dibandingkan dengan masa-masa perkembangan ilmu ekonomi) terbitlah buku karangan dari Adam Smith yang kedua dan isinya sangat kontras bagaikan siang dengan malam. Buku tersebut berjudul An Inquiry into the Nature of the Wealth of Nations. Yang mengherankan adalah orang-orang lebih tertarik pada isi buku yang kedua ini.

Jargon-jargon ilmu ekonomi yang dikumandangkan Adam Smith dalam bukunya antara lain: Homoeconomicus, free entry free exit, least cost combination, profit maximization, economic animal, free competition, invisible hand. Kata kunci dari semua jargon ini adalah efisiensi. Siapa yang bekerja dengan efisien dapat tinggal dipasar dan hidup. Yang tidak efisien keluar pasar dan mati alias gulung tikar.

Semenjak itu pemikiran Adam Smith banyak diikuti para pemikir yang bergabung dalam satu aliran yang disebut Klasik. Dari sudut pandang Klasik, ekonomi diatur melalui mekanisme pasar, harga diatur oleh ‘invisible hand’. Pemerintah harus menahan diri untuk mengatur kegiatan ekonomi. Biarkan upah, sewa, gaji, pendapatan, kesejahteraan, bunga, dan keuntungan diatur oleh pasar. Banyak ahli ketika itu sangat optimis akan aliran ini.

Jean Baptiste Say bahkan mengatakan dengan ide ini tidak akan terjadi kelebihan produksi, tidak ada sumber-sumber atau faktor produksi yang menganggur. Penawaran itu sendiri yang akan menciptakan penawaran katanya. ‘Supply criate its own demand since the aggregate cost of production is spent for the aggregate product’ begitu yang ditulis dalam bukunya ‘Treatise on Political Economy (1821). Disamping rasa keoptimisan para pemikir tadi, di sisi lain ada juga yang merasa pesimis akan kondisi perekonomian ketika itu.

Diantaranya Thomas Robert Malthus, yang mengatakan bahwa laju perkembangan penduduk terlalu cepat dan tidak bisa terkejar oleh laju pertambahan bahan makanan. Digambarkan laju pertambahan penduduk mengikuti kaidah deret ukur, sedangkan laju pertambahan makanan mengikuti deret hitung. Ini artinya suatu saat dunia ini akan mengalami kelaparan jika jumlah penduduk telah melebihi jumlah bahan makanan.

Berabad-abad jalan pikiran Klasik ini berjalan tanpa hambatan, sampai suatu saat menjelang pertengahan abad 20, terjadi krisis dunia yang cukup parah. Pengangguran besar-besaran terjadi, inflasi sangat tinggi, kelaparan terjadi pada belahan dunia berkembang. Aliran Klasik ini tidak bisa menjelaskan kenapa bisa terjadi stagflasi tersebut. Akhirnya tahun 1936 datang John Maynard Keynes yang mengklaim bahwa ajaran Klasik telah usang dan tidak bisa menyembuhkan ‘twin devil’ perekonomian yaitu pengangguran dan inflasi.

Kyenes mengganti dengan ajarannya yang mengatakan bahwa pemerintahlah yang harus mengatur semua ini. Kegiatan ekonomi sebaiknya diatur oleh pemerintah baik langsung maupun tidak langsung melalui kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan kebijakan lainnya. Jalan pikiran ini diatur dalam bukunya: The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936).

Pendapat Keynes ini juga tidak bertahan lama, karena resesi kembali melanda negara-negara Barat dan negara industri lainnya pada tahun 1970-an, awal 1980-an dan terakhir tahun 1990-an. Aliran klasik muncul lagi setelah mengetahui konsep Keynes mengalami kegagalan dengan adanya tiga kali resesi semenjak 1936.

Aliran Klasik yang muncul dengan beberapa tambahan penekanan seperti yang dikenalkan oleh Milton Friedman dan kawan-kawan. Friedman menganut aliran moneteris, yang menekankan kebijakan moneter secara langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi kegiatan ekonomi. Disamping itu terdapat pula aliran ‘sisi penawaran’ atau supply side economics. Aliran ini dibangun 1970-an sebagai reaksi atas perlakuan Keynes terhadap sisi permintaan.

Akhirnya sampai dengan penghujung abad 20 campuran antara aliran Keynes dan Klasik baru masih mewarnai kebijakan ekonomi yang pada dasarnya adalah penterapan ajaran Klasik yang ditambah dengan campur tangan pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter baik langsung maupun tidak langsung.

Beberapa Kegagalan Sistem Ekonomi Pasar/Material


Sistem ekonomi yang kita warisi sekarang sangat kental peninggalan pemikir Klasik dan Klasik Baru yang notebene literature Barat terutama Amerika Serikat. Semua aliran dalam sistem ekonomi diatas hanya menekankan pada ekonomi material saja. Belum memikirkan bahwa disamping dunia yang kita jalani masih ada dunia lain yang perlu akan dilakoni. Dunia itu dunia akhirat. Sehingga hukum sebab akibat antar dunia kini dengan dunia nanti (akhirat) mungkin berlaku termasuk pada kegiatan ekonomi.

Banyak hal yang kurang cocok dengan kondisi masyarakat kita yang agraris-religius. Beberapa kegagalan dari konsep ekonomi material tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

(1). Pasar, yang dibentuk berdasarkan permintaan dan penawaran yang diatur oleh kekuatan ‘invisible hand’ selalu mengabdi pada golongan yang mempunyai daya beli. Mengabdi pada golongan kaya. Bagaimana bagi golongan masyarakat yang tidak mampu membeli? Tidak punya daya beli atau berada dibawah bayang-bayang harga pasar? Tangan-tangan-tidak-kelihatannya Adam Smith tidak bisa mengatur atau memperbaiki kekurangan ini.

(2). Homoeconomicus. Arsitektur ekonomi pasar mempunyai anggapan bahwa manusia dalam tindakanya adalah rasional. Jika memperoleh keuntungan dibuat maksimum, dan jika menderita rugi diusahakan rugi sekecil-kecilnya. Anggapan bahwa masyarakat hanya ingin mencari untung sebanyak-banyaknya belum tentu benar. Ada yang mau sekedar untung tapi bisa menampung tenaga kerja yang banyak. Jadi ada distorsi anggapan dalam hal ini.

(3). Efisiensi. Kata kunci dari persaingan bebas adalah diperlukan adanya efisiensi dalam usaha. Siapa yang efisien akan bisa hidup dan bisa melakukan transaksi sedangkan yang tidak efisien akan bangkrut lalu keluar pasar (free exit and free entry). Persoalannya adalah siapa umumnya yang bankrut atau exit? Umumnya terdiri dari rakyat kecil, rakyat kebanyakan (pelaku ekonomi dengan skala kecil/golongan ekonomi lemah/ pelaku ekonomi usaha mikro, kecil dan menengah/sektor informal). Inilah kondisi ketidak adilan yang muncul sebagai akibat efisiensi dalam prinsip persaingan bebas. Oleh karena itu ekonomi skala kecil yang dominant dilakukan dan dimiliki rakyat kecil perlu perlindungan dari arus praktek-praktek persaingan bebas yang menganut prinsip efisiensi.

(4). Globalisasi. Pasar global menganut beberapa prinsip seperti persaingan bebas, efisiensi, homoeconomicus, free entry-free exit. Semua prinsip ini menimbulkan ketidak adilan pada masyarakat. Jika diamati praktek-praktek pasar global dengan skala kecil telah memasuki kehidupan ekonomi masyarakat kita. Ini perlu diwaspadai. Ketidak adilan akan menimbulkan keterasingan (exit) dan akhirnya kemiskinan dan keterbelakangan.

(5). Industrialisasi. Kesalahan pada industrialisasi terjadi ketika ditengarai bahwa buruh dibayar sangat rendah, sehingga majikan dianggap memeras keringat buruh. Industri hidup berdasarkan nilai lebih yang dihasilkan buruh pabrik. Prabhupada mengatakan: Satu dolar yang diberikan pada buruh akan menghasilkan keuntungan sepuluh dolar [1]. Kesalahan pada ekonomi pasar dimana terdapat dua penyakit kembar dalam masyarakat akan selalu muncul selama ekonomi ini menganut system ekonomi pasar. Dua penyakit kembar itu adalah pengangguran dan inflasi. Salah satu dari kedua penyakit ini akan selalu muncul. Karena jika pengangguran diobati akan muncul inflasi, demikian sebaliknya. Banyak lagi kesalahan-kesalahan ekonomi pasar lainnya.

Lalu apakah kita menolak sama semua bentuk ekonomi pasar dengan beberapa atributnya? Tentu saja tidak. Di balik beberapa kelemahan (failure) ekonomi pasar terdapat beberapa aspek positif yang dimiliki seperti jiwa bersaing, prinsip efisiensi namun harus diikuti dengan mengangkat nilai-nilai budaya lokal (local genius). Semangat bersaing memang baik tetapi mengingat hal-hal buruk yang diakibatkannya perlu diwaspadai. Koreksi yang kreatif (meminjam istilah Sri-Edi Swasono,2003) perlu diadakan.

Belajar dari beberapa kegagalan sistem ekonomi pasar tsb, makalah ini mencoba menawarkan satu alternatif sistem ekonomi yang berdasarkan ayat-ayat pada Bhagawad Gita. Sebagai satu konsep masih perlu diuji secara teoritis maupun uji empiris, pada waktu-waktu mendatang.

Tabel berikut menggambarkan perbandingan antara ekonomi modern atau ekonomi pasar bebas atau untuk lebih mempertajam akan diganti dengan ekonomi material sebagai lawan dari ekonomi spiritual (Hindu). Pengembangan setiap konsep kedepan atau elaborasi secara lebih rinci dan jelas sangat perlu dilakukan.

Tabel 3. Perbandingan Ekonomi Pasar/Material dan
Ekonomi Spiritual (Hindu)

Ekonomi Pasar/Material Ekonomi Spiritual (Hindu)


Tujuan Hidup: Memaksimumkan Kepuasan/ Keuntungan, dengan sarana factor alam, modal, tenagakerja dan keahlian/skill Tujuan Hidup: mencapai Moksha (menyatu dengan Tuhan), melalui: Dharma, Artha dan Kama.

Dimensi: Dunia Dimensi: Dunia dan Akhirat.

Motto: Bekerja merupakan alat untuk mencapai kepuasan yang maksimum (homoeconomicus) Motto: Bekerja itu kewajiban dan dharma untuk mencapai moksha. (homotatwamasi)
Menguasai Alam, cendrung merusak Menyesuaikan dengan Alam, cendrung melestarikan.

Untuk memaksimumkan keuntungan memilih jalan ‘rebut dari pesaing atau kehilangan kesempatan’ [free fight, free entry and free exit]—[Mati iba hidup kai] Prinsip hidup berdampingan, berbuat untuk sesama mahluk hidup [Tat twam asi]

Akhir dari perburuan aktivitas ekonomi meninggalkan ‘polusi, sampah dan kerusakan’. Akhir dari aktivitas ekonomi menuju kesejahteraan lahir bathin dengan meninggalkan’musuh sirna kertaning bumi’ [harmoni kehidupan masih ada]

Semua sumber-sumber/resources harus dimiliki, karena konsep ‘private ownership’ Hidup juga untuk kesejahteraan yang lain. Kita lahir telanjang, mati juga telanjang, jangan terlalu serakah!

Ukuran kaya, pemenuhan kebutuhan sebanyak-banyaknya karena letak kepuasan pada konsumsi yang maksimum (maksimum utility) Jika ingin merasa tidak miskin, kurangi kebutuhan, jangan menambah persediaan atau berusaha memenuhinya. Ini artinya pengeka-ngan hawa nafsu.

Fokus pada diri sendiri Fokus pada kebersamaan dan orang lain
Masyarakat dipacu untuk mengambil/ memperoleh Masyarakat bebas memberi (bekerja dengan dua tangan,ber-yadnya dg seribu tangan).
Menghalalkan segala cara untuk mencapai sukses (termasuk persaingan, kriminal, korupsi dan ketamakan) Mengutamakan kerjasama dan meniadakan cara-cara yang tidak surgawi.

Sering kehilangan tanggung jawab dan rasa respek diri sendiri sehubungan dengan pengumpulan kekayaan. Sangat dijaga respek pada diri sendiri melalui pemberian pada sesama, karena mempunyai prinsip lebih baik memberi dari pada menerima.

Kerja keras dan membanting tulang demi pengumpulan kekayaan Kerja keras dan membanting tulang untuk membatasi gaya hidup yang glamour-kesederhanaan [cenderung menyiksa diri]

Menganggap uang bisa memecahkan segala persoalan Persoalan dipecahkan dengan prilaku ‘spiritual’
Tiap orang berusaha memanipulasi sistem ekonomi untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Sering menghasilkan pemimpin yang tidak kualified. Menghindari manipulasi dan menjunjung tinggi aturan-aturan secara jujur, mencegah pembebanan ‘biaya-eksternal’ (eksternalities negatif) pada orang lain.

Karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan sangat timpang. Sebagian masyarakat memperoleh lebih dari yang dibutuhkan, sedangkan orang lain tidak bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan Distribusi pendapatan dijaga sangat merata.

SIMPULAN


Berdasarkan pada uraian diatas maka dapat ditarik beberapa simpulan. Pertama, bahwa dalam pelaksanaan agama (Hindu di Bali) melalui pemahaman agama upakara dapat menambah aktivitas ekonomi regional; Kedua, mengingat terdapat kelemahan dan kegagalan system ekonomi pasar/material maka salah satu alternative pemecahan perlu dikaji penggunaan system ekonomi spiritual dalam memecahkan persoalan ekonomi (khususnya pembangunan) regional dan nasional.

DAFTAR BACAAN

Abel, A.B. and Ben S. Bernanke. 2001. Macroeconomics. Adison Wesley Longman Inc. Boston.

Friedman M. and Friedman, R.D. 1980. Free to Choose. Martin Secker & Warburg Ltd. London.

Gunung, Pedanda Gde Made. 2006. Darmawacana di BaliTV. Tidak diterbitkan.

Lidova, N.1996. Drama and Ritual of Easly Hinduism. Motilal Banarsidass Publication Delhi.

Mantra, I. B. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Yayasan Dharma Sastra. Denpasar

Prabhupada, Sri Simad A.C. Bhaktivedanta Swami. 2000. Bhagawad Gita
Menurut Aslinya. Pen. Hanuman Sakti. Jakarta.

Sonvir, 2001. 108 Mutiara Weda. Penerbit Paramita. Surabaya

Spiegel , H.W.2000. The Growth of Economic Thought. Duke University
Press. London.

Sukarsa, I Made. 2005a. Pengaruh Pendapatan dan Pemahaman Agama Terhadap Pola Konsumsi Ritual Masyarakat Hindu Ditinjau dari Berbagai Dimensi Waktu. Disertasi. Universitas Airlangga. Tidak dipublikasikan.

______________. 2005b. Sisi Ekonomi Sebuah Upacara. Buletin Studi Ekonomi. Volume 10 No. 2 th.2005. ISSN 1410-4628.

______________. 2005c. Tingkat Partisipasi Wanita Pada Persiapan dan Pelaksanaan Upacara Ritual di Bali Selatan. Laporan Penelitian. Pusat Studi Wanita Universitas Udayana Denpasar.

______________. 2006. Nilai-nilai Ekonomi Hubungan Manusia dengn Tuhan dalam Pelaksananaan Trihitakarana di Desa Pakraman Kabupaten Gianyar. Buletin Studi Ekonomi. Volume 2 No. 1 Juli 2006. ISSN 1907-3275.

Swasono Sri-Edi. 2003. Ekspose Ekonomika Globalisme dan Kompetensi Sarjana Ekonomi. Pusat Studi Ekonomi Pancasila-UGM. Yogyakarta.

Viney, John. 1997. The Culture Wars. Capstone Publishing Ltd. Oxford. UK.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: