EFISIENSI DALAM PELAKSANAAN UPACARA )

I Made Sukarsa** )

Dalam penilaian suatu aktifitas dari sisi ekonomi dikenal dengan dua pendekatan yaitu: pertama, pendekatan untung-rugi (benefi-cost ratio). Pendekatan ini membandingkan jumlah keuntungan yang diperoleh dengan jumlah biaya yang dikeluarkan jika nisbah/rasionya lebih dari satu artinya aktivitas itu menguntungkan atau bisa dilakukan. Atau juga bisa dengan mencari sisa jika jumlah keuntungan dan biaya tadi diakumulasikan. Jika sisanya positif maka itu artinya ada keuntungan dan jika negatif akan terjadi sebaliknya. Metode kedua, dipakai dengan melakukan minimalisasi biaya yang dikeluarkan. Jika bisa menekan lebih kecil biaya yang dikeluarkan dengan sejumlah manfaat tertentu, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan terdahulu maka aktifitas biaya ini akan menjadi lebih efisien atau lebih layak dari semula. Metode ini dinamakan least-cost combination.

Kegiatan upacara atau pengeluaran ritual bukan merupakan aktifitas mencari keuntungan tetapi mencari kepuasan batin. Pamrihnya menebus dosa, mendapat pahala, kedamaian hati, kerahayuan jagat atau tujuan-tujuan lain yang bersifat non materi. Melakukan upacara yang paling kecil seperti mesegeh tujuannya untuk nyomya buthakala, merubah sifat buruk menjadi sifat yang baik, merubah sifat merusak menjadi sifat memelihara, saking ngerubeda antuk ngastitiang. Jika yang lebih besar, misalnya mecaru tawur agung esensinya sama hanya dengan cakupan yang lebih luas yaitu kerahayuan jagat kabupaten atau propinsi dan bahkan dunia alam semesta.

Dari pengertian ini yang lebih cocok untuk mengukurnya adalah pendekatan yang kedua yaitu least-cost combination.
Melakukan upacara sebagai salah satu jalan menuju pemahaman agama disamping tattwa dan etika/susila, dikenal dengan tiga tingkatan yaitu: kanista, madya dan utama. Perlu dikonfirmasi dulu apakah ketiga tingkatan itu mempunyai esensi yang sama? Menghasilkan pahala yang sama? Jika ya, maka dengan tingkat kanista bisa dikatakan lebih efisien dibandingkan dengan madya dan utama. Namun perlu ditekankan bahwa melakukan yadnya tujuannya untuk kepuasan bathin (ngetohin keneh). Apalagi jika ada kemampuan lebih untuk membiayi mereka lebih condong memilih tingkatan utama, walaupun dikatakan kurang efisien. Selain keputasan bathin, terdapat unsur-unsur lain yang mendorong untuk berbuat kurang efisien diantaranya: gengsi, selera, demonstration effect, dan bahkan pendapatan. Maslow mengkategorikan jenis kebutuhan ini bukan needs lagi tapi lebih mengarah pada aktualisasi diri. Pada tingkatan ini pendapatan, harga, dan unsur-unsur ekonomi lain mulai diabaikan. Maka terjadilah ketidakefisienan tadi. Seorang pelaku bisnis saja belum tentu mengejar ‘maximum-profit’ tergantung dari misi dan visi usahanya. Ada unsur-unsur lain yang ingin dikejar seperti menampung tenaga kerja yang sebanyak-banyaknya, membantu masyarakat miskin (pro poor project), atau untuk mencari status sosial. Disini prinsip homo-economicus diabaikan.

Antara tattwa dan efisiensi.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 dengan responden 406 kepala keluarga di Bali menemukan hasil bahwa terdapat hubungan terbalik (berlawanan) antara tingkat pemahaman agama (tattwa) dengan besarnya pengeluaran ritual (Sukarsa, 2005a). Pada penelitian itu disimpulkan semakin tinggi pemahaman seseorang tentang agama (penguasaan tattwa) semakin sedikit pengeluaran ritualnya. Pada kondisi saat itu rata-rata rumah tangga membuat banten saiban dan banten rerahinan rutin (pengkajeng-kliwonan, murnama tilem) sebanyak 34 tandingan. Rentang jumlah tandingan dari 9 sampai 105 tandingan. Tandingan banten yang relatif sedikit ditemukan pada rumah tangga di perkotaan. Yang menarik ada rumah tangga yang setiap hari harus mebanten saiban 105 tanding. Waktu yang dibutuhkan untuk aktivitas ini kira-kira 2 jam. Jenis ini banyak terdapat pada kumpulan keluarga yang menempati pekarangan lama (pekarangan tua). Dalam penelitian yang lain ditemukan untuk canang sari diperlukan 6 jenis barang yaitu bunga, busung+ron, sam-sam, pisang, porosan, dan semat. Sedangkan untuk daksnina diperlukan 13 jenis barang mulai dari kelapa, telor sampai daun dan tebu. Canang sari memerlukan bunga 8,5 gram, busung+ron sebanyak 15 gram. Sedangkan daksina memerlukan kelapa 500 gram, telor (itik) 57 gram, beras 20 gram, sampai bunga 10 gram dan busung 80 gram. Jumlah keluarga di Bali sebanyak 688.281 KK pada tahun 2003, jika rata-rata setahun mebanten canangsari sebanyak 108 kali maka di Bali akan diperlukan bunga sebanyak 21.482,65 ton dan busung sebanyak 37.966,27 ton. Tabel 1 menunjukkan komposisi ke 6 jenis barang yang terdapat pada canang sari.

Tabel 1 Canangsari dan kandungannya
No. J e n i s Berat (gram) %
1. Bunga 8.5 27
2. Busung + ron 15 47,6
3. Sam-sam 4,5 14,3
4. Pisang 0,5 1,6
5. Porosan 1 3,2
6. Semat 2 6,3
T o t a l 31,5 100
Sumber: Sukarsa,2005b:124

Canangsari merupakan sarana sembahyang yang paling sering dipakai. Dan terlihat busung merupakan bahan yang paling banyak dipakai dan setelah itu bunga. Kedua jenis barang ini merupakan komoditi yang sangat banyak dijualbelikan di pasar. Pada jenis sarana upcara yang lain seperti daksina, kelapa, busung, telor, bunga, dupa dan beras merupakan komoditi yang paling banyak digunakan sehingga sering didatangkan dari luar Bali (Lampiran1). Dalam hal ini Bali masih tergantung pada pasokan dari luar Bali seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi dan Kalimantan. Salah satu conotoh, pisang datang dari Kalimantan, sebagai daerah produsen, lalu singgah di Makasar. Dari Makasar lewat pelabuhan Tanjung Perak dan diteruskan di Bali (pasar Ubung Anyar). Demikian pula bahan bangunan untuk sanggah seperti ijuk, kayu nangka dll datang dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat. Jika melihat hasil penelitian tadi dimana jika penguasaan tattwa semakin tinggi maka pemakaian barang-barang untuk keperluan upacara akan semakin sedikit. Ini berarti ketergantungan Bali akan semakin kecil terhadap derah lain. Ini berarti pula efisiensi konomi regional semakin meningkat.

Penggunaan Tenaga Kerja, Efisiensi dan Menyama-braya.

Pembagian tenaga kerja dalam penyelesaian upacara di Bali biasanya telah terspesialisasi antara tenaga wanita dan laki-laki (berdasarkan pembagian gender). Biasanya pekerjaan hardware seperti membuat bade, warung/salon, mebat dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan pekerjaan software seperti mejejahitan, metanding dan prosesi upacara dilakukan oleh wanita. Demikian pula distribusi penggunaan tenaga kerja pada saat menjelang, selama dan sesudah upacara dilakukan telah terurai sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja. Salah satu contoh pada upacara pengabenan berikut, distribusi tenaga kerja terlihat mulai dari H–6 sampai dengan hari H diperlukan total tenaga kerja sebanyak 5591 orang (laki dan wanita). Pada hari H-6 diperlukan 60 orang tenaga kerja wanita dan laki-laki. Kemudian pemakaian pada hari berikutnya (H-5) meningkat menjadi 108 orang dan akhirnya pada puncak acara dibutuhkan 2218 orang.

Tabel 2. Tenaga Kerja yang Bekerja pada Ngaben
Hari Laki Wanita Laki+Wanita
H-6 42 18 60
H-5 58 50 108
H-4 513 549 1062
H-3 331 886
H-2 51 92 143
H-1 590 524 1114
H 1283 935 2218
Total 5591
Sumber: Sukarsa, 2004(22).

Jam kerja atau kedatangan ketempat upacara setiap orang sangat beragam, mulai dari 30 menit sampai dengan 24 jam. Jika di total semua orang yang datang membantu dan dikonversi dengan man-days (8 man/days untuk orang laki dewasa, 6 man-days untuk wanita dewasa) maka total tenaga kerja yang dibutuhkan untuk ngaben adalah 700 man-days (tepatnya 699 man-days). Gambar 1 menunjukkan alokasi penggunaan tenaga kerja setiap hari mulai dari H-6 sampai dengan hari H pada pengabenan di Bali Selatan (Sukarsa, 2004:24). Pada Tabel 3 terlihat bahwa seperti yang diduga sebelumnya penggunaan tenaga yang terbanyak pada hari H yaitu sebanyak 277 man-days atau 40% dari total tenaga kerja.

Tabel 3. Alokasi Waktu pada Upacara Ngaben (Man-days)
Hari Laki (orang) M/day-Lk Wanita (or) M/day-Wnt M/day-total
H-6 42 5.25 18 2.25 7.50
H-5 58 7.25 50 6.25 14
H-4 513 64.13 549 68.63 133
H-3 555 69.38 331 41.38 111
H-2 51 6.38 92 11.50 18
H-1 590 73.75 524 65.50 139
H 1283 160.31 935 116.88 277
Total 3092 386.44 2499 312.38 699
Sumber: Sukarsa, 2004(24).

Jika diperhatikan alokasi antara laki dan wanita pada setiap hari kelihatannya tergantung dari volume pekerjaan. Ketika pada H-6 kebanyakan pekerjaan hardware seperti membuat warung/salon maka diperlukan lebih banyak tenaga laki-laki. Pada pekerjaan tertentu seperti ketika pengaskaraan, ngajum, dan ngeseng sekah pada pekerja wanita yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Disamping jenis pekerjaan yang software juga komposisi ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kerja di desa tersebut.

Tabel 4 .Alokasi Waktu dan Tenaga Kerja pada Hari H Ngaben
No. Kegiatan Lk(or) Wanita(or) Lama(jam) Total (jam) Mandays
1. Mebat 80 30 6 660 82,5
2. Mencari Tirta Penembak 60 40 3 300 37,5
3. Ngutang sok Cegceg 60 25 2 170 21,3
4. Mendak Tirta, 14 15 2 44 5,4
5. Mecaru 4 15 1 19 2,4
6. Ngangget Don Bingin 45 25 2 105 13,1
7. Ngajum Sekah di setra 80 100 2 360 45,0
8. Ngeseng sekah,ngaskara 50 70 3 360 45,0
9. Nyupit/pengelemijian,nilapati 50 50 2 200 25,0
T o t a l 430 370 2218 277
Sumber: Sukarsa, 2004(20)

Tabel 4 menunjukkan hampir semua setiap tahapan pekerjaan jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita, kecuali ketika Mecaru, Ngeseng sekah, dan Ngaskara.
Masalah efisiensi pengurangan tenaga kerja disini tidak bisa di lakukan begitu saja, karena menyangkut persoalan hubungan kekerabatan antar sesama warga banjar dan persaudaraan (menyama-braya). Persoalan efisiensi disini terletak pada kedalaman pembagian kerja dan keahlian masing-masing pada tingkatan pekerjaan. Semakin terspesialisasi maka semakin efisien para pekerja tersebut. Disamping itu pemilihan waktu penyelesaian pekerjaan sesuai dengan kondisi kelompok banjar. Misalnya jika sebagian besar anggota masyarakat banjar terdiri dari pegawai negeri, maka banyak pekerjaan yang bisa dilakukan pada malam hari atau pagi hari, diluar jam kerja kantor. Pergeseran-pergeseran jam kerja telah banyak berubah terutama di lokasi banjar yang berdekatan dengan kota besar seperti Denpasar. Misalnya di Banjar Wangaya, Batubulan, Sesetan menyelesaikan pepaga untuk orang meninggal (metektekan) dilakukan pada pagi hari jam 5 sampai dengan jam 7. Lalu ngeringkes dan ke kuburan dilakukan pada siang hari setelah jam kantor (lewat jam 12 siang). Sebatas ini efisiensi bisa dilakukan. Dalam teori juga disebutkan semakin dalam terjadinya spesialisasi semakin trampil pekerja melakukan tugasnya dan semakin efisien pekerjaan yang dilakukan. Apakah dengan pergeseran-pergeseran waktu dan spesialisasi penyelesaian perangkat upacara antar wanita dan laki-laki ini bisa menyebabkan adanya efisiensi perlu dibuktikan pada studi-studi yang lebih dalam.
Bacaan
Sukarsa, I M. 2004. Tingkat Partisipasi Wanita pada Persiapan dan Pelaksa-
naan Upacara Ritual di Bali Selatan. Hasil Penelitian Universitas
Udayana, tidak diterbitkan.

Sukarsa, I M.2005a. Pengaruh Pendapatan Keluarga dan Pemahaman Agama
Terhadap Pengeluaran Konsumsi Ritual Masyarakat Hindu di Bali Ditin-jau dari Berbagai Dimensi Waktu. Disertasi. Universitas Airlangga. Tidak diterbitkan.

Sukarsa, I M. 2005b. Sisi Ekonomi Sebuah Upacara. Bulletin Studi Ekonomi.
Vol.10 No.2 Tahun 2005. ISSN 1410-4628.

Lampiran 1
No. J e n i s Berat %
1. Kelapa 500 71,5
2. Telor (itik) 57 8,2
3. Pangi/kluek 10 1,4
4. Tingkih/kemiri 5 0,7
5. Beras 20 2,9
6. Dupa 5 0,7
7. Benang 1 0,1
8. Pis bolong/uang kepeng 5 0,7
9. Bunga 10 1,4
10. Busung/daun kelapa 80 11,5
11. Semat 3 0,4
12. Daun 1 0,1
13. Tebu 3 0,4
T o t a l 700 100
Sumber: Sukarsa,2005b:124

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: