POLITIK DAN POLITICKING KAMPUS

I Made Sukarsa

Sejak Pemerintahan Hitler menyerbu pertemuan pimpinan mahasiswa dan memakan korban tewas 9 mahasiswa di Praha, aktivis mahasiswa terus berjuang untuk bersatu dan ingin mewujudkan persatuan mahasiswa dunia. Sampai hari ini cita-cita itu tidak kesampaian. Demikian pula di Indonesia. Pada bulan Januari 1973, seluruh mahasiswa Indonesia melalui organisasi mahasiswa intra universiter seperti Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan dll berkumpul di Denpasar untuk membentuk Asosiasi Mahasiswa Indonesia mengalamai kegagalan. Kegagalan di Denpasar ini sudah kesekian kalinya menyusul di kota-kota lain di Indonesia. Mengapa gagal?

Inilah pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab secara tuntas. Rasanya ada kekhawatiran dari pihak pemerintah (paling tidak ketika itu ‘Orde Baru’) jika mahasiswa Indonesia bisa bersatu. Akan terdapat satu kekuatan moral dari sekelompok intelektual yang begitu besar. Usaha-usaha penggagalan pembentukan ‘International Union Student’ ala Indonesia ini terasa mulai dari ketika panitia kongres meminta ijin dari kepolisian. Selalu dihambat. Masuk akallah jika mahasiswa Indonesia bersatu. Sejarah membuktikan mahasiswa merupakan motor penggerak setiap pergerakan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Dr Sutomo pada 20 Mei 1908 memimpin gerakan Budi Utomo bersama Dr Wahidun. Gerakan sumpah pemuda 1928 dipelopori sejumlah mahasiswa dan pemuda. Soekarno dan Hatta (mahasiswa kedoketeran dan ekonomi) tahun 1945 memelopori gerakan kemerdekaan Republik Indonesia. Dan banyak lagi gerakan-gerakan setelah kemerdekaan di tanah air selalu dipelopori mahasiwa intra kampus seperti gerakan mahasiswa tahun 1965 (proses pelengseran Presiden Sukarno), 1974 (Malari, gerakan menentang modal asing masuk Indonesia), tahun1978 setelah pemilu (gerakan anti sasaran Pelita dari pemerataan hasil pembangunan ke pertumbuhan oleh Presiden Suharto). Gerakan-gerakan berikut disusul lima tahunan menyusul Sidang MPR yang selalu mengukuhkan Suharto sebagai presiden, tahun1983, 1988, 1993 dan 1998. Ketika pada bulan Mei 1998 dimana Presiden Suharto lengser, itu juga merupakan kepeloporan tokoh reformasi yang di tulang belakangi para mahasiswa.

Politicking Kampus

Politik dalam arti luas mempunyai makna mengatur masalah ketatanegaraan atau kehidupan bernegara. Kampus pun tidak luput dari aktivitas ini. Kampus dijadikan sebagai ajang pergumulan diantara organisasi politik (organisasi ekstra universiter), partai politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerintah.

Kampus dipakai sebagai tempat kaderisasi anggota partai tertentu, juga kader bagi organisasi masa, kader bagi LSM. Memasukkan kadernya ke dalam kepengurusan organisasi mahasiswa intra kampus/univesiter seperti Dewan dan Senat Mahasiswa (jaman Orde Baru), ke dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Universiter/Komite Sentral Mahasiswa (jaman Reformasi), Unit Kegiatan Mahasiswa, seperti Menwa, Marching Band, Mahasiswa Pecinta Alam, Unit Kegiatan Kerohaniawan, dll. Jabatan yang paling strategis tentu Ketua Umum, Sekjen atau Ketua-ketua bidang. Begitu pula rekrutmen kader atau anggota, setiap awal tahun ajaran baru selalu dilakukan. Aktivitas ini sangat kentara ketika sebelum diberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus tahun 1978, organisasi politik ekstra universiter dengan sangat jelas melakukan akativitasnya di kampus. Oleh Presiden Suharto dengan alasan ingin ‘menertibkan’ kehidupan kampus maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah tentang NKK pada tahun 1978, yang dilanjutkan dengan Kepmendikbud No. 155/U/1998 tahun 1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Dengan pedoman ini dirasa kurang cukup oleh pemerintah. Pemerintah orde reformasi pada tahun 2002 mengeluarkan keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) no. 26/Dikti/Kep/2002 tentang pelarangan organisasi ekstra kampus atau partai politik dalam kehidupan kampus. Maka sampai saat ini sesuai dengan jiwa keputusan tersebut organisasi ekstra kampus tidak diperkenankan melakukan aktivitasnya di dalam kampus.

Floating Mass

Dengan adanya rambu-rambu tadi, persoalan aktivitas mahasiswa di kampus menjadi sangat awam akan teori-teori politik praktis. Demikian pula pembina organisasi kemahasiswaan (dosen), karena dia adalah abdi negara, seorang pegawai negeri sipil sangat tidak mungkin melakukan aktivitas politik praktis. Jika dia (dosen) sebagai karyawan yayasan (swasta) juga tidak mungkin melakukannya di kampus. Jika diluar itu mengatas namakan pribadi. Sebagai akibatnya kampus selalu juga menjadi incaran partai-partai politik untuk menancapkan pengaruhnya. Apakah itu memasukkan program, membuat aktivitas yang menarik atau mengajak simpatisan-simpatisan ke dalam kampus atau membantu kampus dalam memecahkan persoalan kampus. Seperti gadis cantik, setiap waktu ada yang meminang, merayu atau mengajak terang-terangan. Setiap anggota civitas akhirnya bebas menentukan pilihan walaupun itu ditentukan dan dilakukan diluar kampus (ekstra mural). Lalu di dalam kampus mereka merupakan masa mengambang yang bisa ditarik kesana dan kemari. Yang namanya mengambang mudah terombang ambing, tidak tentu arah. Dengan label ‘independent’ mereka bebas memilih. Namun bahayanya bisa terjepit diantara dua kekuatan besar. Terutama bagi kader organisasi masa atau politik, warga kampus dikatakan plin-plan. Orang Bali bilang nyangut. Ya itulah pandangan bagi seorang kader partai. Jangan salahkan mereka. Seorang kader hanya ada dua alternatif, pihak saya atau pihak lawan. To be or not to be. Titik. Oleh karena itu seorang kader partai di kampus berusaha menarik warga kampus untuk menjadi anggota partainya. Apapun resiko yang dihadapi. Oleh karena itu berhati-hatilah warga kampus bersikap.

Pucuk piramida

Dalam hirarki kepemimpinan, mahasiswa merupakan cikal bakal pemimpin teratas (top leader). Populasinya tidak banyak. Tidak lebih dari satu persen dari total penduduk. Namun setiap pemikiran dan gerakan mahasiswa mempunyai ciri pemikiran akademik, yaitu mempunyai konsep yang jelas, lahir dari analisis akademik dan dilakukan dengan cara intelek. Konsep yang jelas artinya tidak sembarang. Dipikirkan jauh-jauh hari dengan pemikiran matang. Ditimbang sisi negatif dan sisi positif. Lahir dari analisis akademik, mempunyai latar belakang pemikiran yang mendalam serta dapat memproyeksikan kondisi kedepan yang cukup jauh dan secara sistematis dan terukur. Dilakukan dengan cara intelek maksudnya cara penyampaian dengan santun, dengan cara berdiskusi, orasi maupun debat publik. Menghindari cara-cara anarkis.

Dengan pendekatan gerakan yang dilakukan tersebut masyarakat yakin dan percaya bahwa kelak mahasiswa aktivis bisa memposisikan dirinya pada pucuk piramida kepemimpinan di kemudian hari. Kenapa? Seorang aktivis sudah terbiasa dalam proses pembuatan keputusan. Bukankah hidup kita ini terdiri dari rangkaian pembuatan keputusan? Jika ini sudah terbiasa dilakukan sejak dini maka kebanyakan keputusan yang diambil olehnya akan memberikan warna tersendiri. Warna yang tegas, tidak ragu-ragu. Itulah seorang pemimpin yang aktivis. Ciri kedua, seorang aktivis akan dengan cepat bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam keadaan kondisi sulit, dia akan bisa dengan fasih dapat menyelaraskan diri pada keadaan. Dapat memutuskan dengan cepat. Dalam bahasa sekarang dia mempunyai soft skill yang lumayan bagus.

Penutup

Sebagai mahasiswa aktivis diyakini akan dapat menentukan pilihan yang terbaik bagi lingkungannya, setidak-tidaknya bagi dirinya sendiri. Dapat menelah, mengkaji secara akademik, dan menyampaikan dengan cara intelek. Dalam pemilihan presiden nanti diyakini pula mahasiswa mempunyai peran dalam menentukan pilihan bagi kelompoknya. Selamat berjuang, selamat beraktivitas. Sebagai penutup saya kutip slogan para aktivis dunia pada abad ke 12 dan 13 di Bologna dan Paris. Kita Bergembira Selagi Kita Muda. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: